Gunungkidul, Suaradjogja.co, Belajarlah sampai ke Telaga Jonge, pepatah itu sangat pas untuk para siswa SMA N 2 Playen, Gunungkidul, yang mengujungi destinasi Telaga Jonge untuk melengkapi pelajaran Projec Penguatan Pelajar Pancasila atau P5.

Banyak yang mereka tanyakan, dari kapan diresmikan, tujuan dibuat wisata kuliner, mengapa alat pembayaran kuliner menggunakan kepingan kayu.

Pihak pengelola sangat mengapresiasi kahadiran para siswa kelas XE4  yang berjumlah 12 anak. Sabtu (13/1/2024).

Di ruang reservasi, Budi Raharjo, selaku pengelola menjelaskan, wisata kuliner Telaga Jonge dirintis mulanya hanya untuk wisata religi karena ada petilasan makam Kyai Sidiq Wacono atau lebih dikenal dengan mbah Jonge. Seiring waktu dikembangkan menjadi wisata kuliner.

Mengenai diresmikan menjadi wisata kuliner digital, sejak 18 Mei 2017. Dirintis mulai dari tiga lapak makanan hingga kini menjadi 25 lapak dengan kios permanen.

Dari siswa ada yang menanyakan, mengapa alat pembayaran kuliner menggunakan keping kayu? " Sengaja dibuat demikan agar beda dengan tempat yang lain, supaya menarik bagi pengunjung dan itu hanya berlaku hari Sabtu dan Minggu ditambah libur hari raya atau libur nasional" jelas Budi kepada siswa SMA Duply.

Kunjungan diakhiri dengan saran-saran dari perwakilan siswa agar ada gedung khusus untuk para pelajar saat belajar di wisata kuliner Jonge.

(Red/M.Jak)