Sleman - [6/1/2023] - Usaha harus dihiasi doa, prinsip spiritualitas harus diejawantahkan dalam urusan apapun. Termasuk dalam kontestasi Pilpres 2024.

Untuk menjaga dua prinsip inilah relawan Sahabat Pagi menggelar acara Munajat untuk Kelanjutan Pembangunan Bangsa. Acara dihelat di rumah kediaman Ketua Dewan Pembina Sahabat pagi, H. Sofiatun Gudono, di Sleman, Yogyakarta.

Acara ini dihadiri oleh ratusan orang, serta beberapa kelompok relawan pendukung Prabowo-Gibran dari berbagai daerah. Acara mulai dengan doa dan membaca Alquran bersama.



Akademisi dan pegiat literasi digital, Muchlas Rowi, juga turut hadir sekaligus didaulat memberikan orasi kebangsaan.

Dalam kesempatan itu, Sofiyatun Gudono mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai ajang silaturahmi, dan juga untuk meminta doa kepada jamaah yang hadir.

"Di acara ini saya memohon doa untuk keluarga kami, orang tua kami, semoga semuanya diberikan kelancaran," kata Sofiatun dalam sambutannya selaku tuan rumah.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Relawan Sahabat PaGi Sofiyatun pun meminta doa kepada para hadirin untuk Prabowo-Gibran agar diberikan hasil terbaik dalam Pilpres 2024.

Meski begitu, dia mengingatkan, bahwa berbeda pilihan adalah biasa, yang terpenting adalah masyarakat tetap damai di tahun pemilu. Menurut dia, memilih pemimpin harus sesuai hati nurani.

"Kita kalau berbeda pilihan tidak masalah. Setiap orang punya pilihan masing-masing, yang terpenting adalah kita tetap damai, jangan sampai bertengkar karena beda pilihan," ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Relawan Sahabat Pagi Olsu Babay juga memita doa agar Prabowo-Gibran menang di Pilpres 2024.

"Saya dari relawan Sahabat PaGi tentu minta doanya agar Prabowo-Gibran bisa dimudahkan dan diberikan kemenangan," kata Olsu.

Sementara itu, Muchlas Rowi dalam orasinya, menyoroti banyaknya hoaks yang muncul di masa-masa menjelang Pemilu. Dia pun meminta agar memeriksa terlebih dahulu setiap  informasi yang datang.

"Biasanya hoaks dibuat oleh orang pandai, bahkan sudah ada dari dulu di masa nabi. Makanya harus hati-hati, harus diperiksa dulu setiap informasi," kata Muchlas.

Selain itu, Muchlas juga menyoroti soal hadirnya pemimpin muda. Menurut dia, anak muda harus diberi kesempatan, sebagaimana dalam sejarah Islam dulu sahabat bernama Usamah bin Zaid diangkat menjadi panglima muslim paling muda dan menorehkan prestasi gemilang.

"Jadi ketika ada anak-anak muda yang maju, kita beri kesempatan mereka untuk berbuat, untuk memimpin, jangan sampai anak-anak muda ini langkahnya kita hentikan," kata Muchlas.

"Makanya kita perlu anak-anak muda seperti Mas Gibran Rakabuming Raka dan Mas Kaesang Pangarep, yang ketika diberi kesempatan dan kepercayaan mereka bisa memberi inovasi menorehkan prestasi," lanjutnya.

(Rep/Tri Indarta)