Gunungkidul -- Pantai Krakal adalah satu nama pantai dari deretan nama-nama pantai lainnya yang ada di Gunungkidul yaitu pantai Ngobaran,  Sedahan Baron,  Jungwok, Gesing, Wediombo, Jogan, dan pantai Sepanjang.
Pantai Krakal khususnya adalah pantai yang menjadi obyek penelitian, karena daerah ini juga akan dibangun sebuah perkantoran berbentuk menyerupai kapal pesiar, yang investasinya sudah dimulai oleh PT. Gudang Pariwisata Indonesia (Guparindo), yang memang fokus mengembangkan pariwisata berbasis seni budaya dan alam/lingkungan direct komando oleh Owner dan direktur Ibu Intan Aprillia Minten Kraft yang punya pengalaman bisnis property, motivator dan aktif diberbagai organisasi pengusaha.
Penelitian berfokus pada beberapa permasalahan, yaitu penguatan promosi wisata pantai Krakal berbasis seni pertunjukan, pertanian/agribisnis, UMKM dan berbagai event budaya lainnya, mendorong peningkatkan kerjasama atau sinergi dengan berbagai instansi pemerintah, swasta baik investor dalam negeri dan luar negeri yang sedang berproses oleh PT. Guparindo dibawah pimpinan atau direktur Ibu Intan Aprillia Minten Kraft, yang akrab dipanggil Ibu Mai. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan hasil wawancara, bahwa pemilik warung yang ada di sepanjang pantai Krakal berharap pantai Krakal dibuat ramai, dalam arti perlu ada event-event sebagai media untuk mempromosikan pantai Krakal, ungkap Nengah Rata, sebagai peneliti yang fokus memberdayakan masyarakat dalam bidang seni dan budaya, sekaligus mengadakan pelestarian seni selanjutnya bisa juga digunakan sebagai media promosi pariwisata. Lebih lanjut dirinya yang saat ini mengajar di Universitas Dhyana Pura, juga menyoroti agar tercipta lingkungan yang estetis, pantai harus terjaga dengan rapih (rapi dan bersih), perlu dibangun taman pantai atau jalan menuju pantai Krakal dan ditata dengan indah, sehingga bisa memenuhi unsur Sapta Pesona yang ke-5 yaitu indah. Penataan ini misalnya dengan membangun pedestrian seperti  trotoar, pavement, sidewalk, pathway, plaza dan mall. Nengah Rata di sela-sela penelitian ke lapangan juga mengadakan sosialisasi SAPTA KARYA PARIWISATA INDONESIA berupa sebuah konsep yang masih terus disosialisasikan, yang isinya meliputi pariwisata itu idealnya Berbudaya, Bermufakat, Berintegritas, Bergotongroyong, Berkeadilan, Berkualitas, Berkelanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh Bapak Fery Subastiayan dari GKTC, Mursidi dari Pokdarwis Nglanggeran, Sukri dari HPI Gunungkidul, Dwi Riyanta dari Kompepar, Karsimin Parikaton, Immawan Muhammad Arif dari Gunungkidul TV, Annas Nursyifa dari Warta Dhaksinarga, Ki Mujar, Bambang Haryana, Emha Irawan dari Royal House Rumah Budaya Jogjakarta. 
Untuk mengaplikasikan hasil penelitian ini, maka telah diadakan event atau kegiatan kesenian yang juga berkaitan dengan hari ibu 22 Desember 2023. Event tersebut bernama Bakti Pertiwi, yang diikuti oleh ratusan seniman, baik dari Gunungkidul dan dari luar. Kegiatan ini juga didukung oleh pemerintah Gunungkidul.
Kegiatan pertanian yang mengarah pada kegiatan ke Agrbisinis juga ditemukan di lapangan oleh Ir. I Made Murna, M.MA yang adalah akademisi juga dari Universitas Dhyana Pura. Pohon-pohon Pandan yang ada di pantai Krakal juga perlu dirawat dan ditata dengan rapi, penanaman pohon perlu dimakimalkan agar tercipta lingkungan yang green. Pohon jati yang tumbuh subur perlu dioptimalkan sekaligus dipromosikan sehingga hutan bisa dijadikan hutan wisata pohon Jati dan edukasi. Kegiatan ini bisa dioptimalkan dibawah koordinasi Pokdarwis setempat. Saat ini memang tamu asing sudah mulai mengunjungi daerah Gunungkidul, sambil olah raga dan melakukan soft tracking seperti yang pernah dipandu langsung oleh Ibu Mai, karena memang PT. Guparindo memang mempunyai legalitas dalam kegiatan pemandu wisata/guiding. Lebih lanjut Ibu Mai juga menjelaskan bahwa dari batu batu lintang yang warnanya berkilau menyerupai berlian, menurut tamu saya orang Inggris dan Belanda, itu bisa menjadi produk aksesoris atau perhiasan, seperti kancing baju, kalung, dan cincin, ujarnya. 
Ibu Intan juga menjelaskan pada saat pergelaran Bakti Pertiwi yang digelar kegiatannya dari tanggal 19-22 Desember 2023 bahwa melibatkan akademisi Universitas Dhyana Pura yang dari Bali agar segala sesuatu yang akan dikerjakan berdasarkan hasil riset di lapangan, karena itu perlu melakukan kerja sama secara pentahelix, termasuk melibatkan akademisi, ujarnya.

Humas - Pt.Guparindo

(Redaksi)