Gunungkidul, (04/02/2024) -- SPODOPTERA Frugiperda merupakan jenis ulat grayak yang menyerang tanaman jagung. Hama ini merupakan hama invasif dan mempunyai daya rusak yang tinggi.

Hama ini berasal dari benua Amerika dan menyebar ke seluruh dunia. Jenis hama ini tergolong hama baru di Indonesia. 

Mengenai serangan hama ini sangat dirasakan para petani di Gunungkidul pada periode tahun ini yakni saat tanaman jagung mulai membesar.

Sebagian mayarakat petani menyebutnya dengan sebutan Ulat Grayak dikarenakan saat menyerang daun jagung berjumlah lebih dari 10 ulat.

Saat ini para petani khususnya jagung sangat kesulitan mengatasi hama pemangsa daun jagung ini, sebab meskipun sudah dilakukan penyemprotan dengan obat pembunuh hama, namun secara tiba - tiba keesokan harinya datang lagi.

Basuki, salah seorang petani asal Pacarejo, Semanu Gunungkidul menyampaikan jika kemungkinan periode musim ini cenderung gagal panen.

"Tanaman jagung masih dalam pase pertumbuhan pada daun yang kemudian akan proses pembentukan bunga dan buah, tapi jika daunya saja di makan ulat, ya kemungkinan besok akan gagal panen, Mas," kata Basuki pemilik lahan yang dikunjungi awak media.

Dilanjut, hingga saat ini belum ada solusi dari pendamping maupun dinas terkait mengenai penanggulanganya.

Para petani sementara ini berupaya menanggulangi dengan cara membunuh satu - persatu atau dengan semprot obat pembunuh hama, meskipun tidak maksimal.

Saat ini para petani yang lahannya di tanami jagung, merasa ketar - ketir akan tidak panen pada periode ini.

Dikutip dari berbagai sumber,
Spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FAW) merupakan hama jenis baru di Indonesia yang menyerang tanaman jagung. Hama baru tersebut, dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm. Ulat grayak merupakan serangga ngengat asli daerah tropis yang sebelumnya hanya ditemukan pada pertanaman jagung di Amerika Serikat, Argentina, dan Afrika. Tahun 2018 FAW memasuki Benua Asia di kawasan India, Myanmar, dan Thailand. Maret 2019 dilaporkan merusak tanaman jagung dengan tingkat serangan berat di Kabupaten Pasaman Barat (Sumatera Barat), kemudian menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai jenis hama baru yang menyerang pertanaman jagung di Indonesia, keberadaan hama ulat grayak atau Spodoptera frugiperda ini dapat menjadi ancman seirus bagi para petani di Indonesia. 

Hama ulat grayak ini mejadi perhatian khusus karena dapat merusak tanman jagung dalam waktu singkat, sehingga pentingnya informasi melalui pengamatan langsung di pertanaman jagung atau sistem scounting, serta pencegahan dan pengendalian hama ini dilakukan secara dini.

Menyebarnya hama jagung ini sampai ke Indonesia dan mampu cepat beradaptasi dengan baik. Bahkan langsung merusak pertanaman jagung. Ini karena diduga hama ulat grayak memiliki karakter biologi yang unik. 

Selain itu, mudahnya penyebaran hama ini karena didukung oleh tingginya volume pertukaran barang dagang antar negara. Tingkat kerusakan akibat serangan hama jagung ini tergolong berat karena menyebabkan kerugian ekonomi pada komoditas jagung. Khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta daerah yang sudah teridentifikasi terserang oleh ulat grayak ini meiputi wilayah : Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Pengasih, Sentolo di kabupaten Kulon Progo, Kecamatan Godean, Gamping, Prambanan, Kalasan, dan Ngemplak di Kabupaten Sleman, Kecamatan Pandak, Jetis, Pundong, Bambanglipuro, Sanden, Srandakan, dan Kretek di Kabupaten Bantul, Kecamatan Wonosari, dan Semanu di kabupaten Gunungkidul.

Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, diperlukan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan.

Ciri dan Siklus Hidup Ulat Grayak Spodoptera frugiperda

Telur diletakkan berkelompok di bawah atau atas permukaan daun, awalnya berwarna putih bening atau hijau pucat, hari berikutnya berubah menjadi hijau kecoklatan, dan berwarna cokelat saat akan menetas.

Larva terdiri dari 6 stadia instar, larva instar 1-5 berwarna pucat kemudian berwarna cokelat hingga hijau muda dan berubah menjadi lebih gelap pada tahap perkembangan akhir, lama stadia l arva sekitar 12-20 hari. Larva instar akhir (stadia 6) atau instar 3 adalah stadia larva yang paling mudah diidentifikasi Terlihat empat titik hitam yang membentuk persegi di segmen kedua terakhir (segmen ke-8 abdomen) tubuhnya. Kepala berwarna gelap; terdapat bentukan huruf Y terbalik berwarna lebih terang di bagian depan kepala..

Pupa berwarna cokelat gelap biasanya berada  di permukaan tanah, masa berpupa berlangsung selama 12-14 hari sebelum tahap dewasa muncul.

Imago atau Ngengat, memiiki bentangan sayap selebar 3-4 cm, sayap bagian depan berwarna cokelat gelap, sedangkan sayap belakang berwarna putih keabuan. Ngengat hidup 2-3 minggu sebelum mati. Ngengat betina dalam satu siklus hidupnya mampu bertelur hingga 1000 telur.

Gejala Kerusakan Dari Hama Ulat Grayak

Berdasarkan nama hama ini, yakni ulat grayak, diketahui bahwa fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. 

Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman. Akibatnya, itu menjadikan pengurangan hasil produksi sebanyak 5 – 20%. 

Tanaman jagung yang diserang oleh hama jagung ulat grayak kerusakannya ditandai dengan:

Adanya bekas gesekan dari larva atau ulat. 
Pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. 
Ulat grayak ini merusak bagian pucuk, daun muda, maka tanaman jagung dipastikan akan mati. 
Ketika populasi ulat grayak ini sangat tinggi, maka bagian tongkol jagung juga akan diserang oleh hama ini.

(Red/Supadiyono)