Jateng -- Ikatan Wartawan Online Indonesia DIY Dampingi Ketum Ziaroh ke Makam R. Ng. Ronggowarsito, di Dukuh Kebon, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, pada Kamis (07/03/2024).

Kehadiran ketua umum NR. Icang Rahardian ke Makam tersebut merupakan ibadah yakni do'a yang ditujukan kepada Allah SWT, untuk ALM R. Ng. Ronggowarsito, dimana beliau adalah cikal bakal pujangga yang menjadi guru besar para jurnalis di Indonesia(red)


Dikutip dari Nusantarapedia.net, Ronggo Warsito, Pujangga Pamungkas Sastra Jawa Klasik.

Raden Ngabehi Ronggo Warsito, nama kecilnya Bagoes Boerhan. Lahir pada tanggal 14 Maret 1802 di Kasunanan Surakarta Hadiningrat negara Hindia Belanda.

Ronggo Warsito, Pujangga Pamungkas Sastra Jawa Klasik

SALAH satu karya sastra dari Ronggo Warsito yang terkenal adalah adalah Serat Kalatida berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis pada tahun 1860 Masehi. Serat Kalatida sangat terkenal di Leiden Belanda. Di pajang pada Puisi Dinding (bahasa Belanda: Muurgedichten, kadang disebut pula Gedichten op muren atau Dicht op de Muur) adalah sebuah proyek yang melukiskan lebih dari 110 puisi dengan berbagai bahasa di dinding-dinding bangunan di Kota Leiden, Belanda.

Serat Kalatida
dening: R. Ng. Ronggo Warsito

amenangi zaman édan
éwuhaya ing pambudi
mélu ngédan nora tahan
yén tan mélu anglakoni
boya keduman mélik
kaliren wekasanipun
ndilalah kersa Allah
begja-begjaning kang lali
luwih begja kang éling klawan waspada.

Terjemahannya:

menyaksikan zaman edan
serba susah dalam bertindak
ikut edan tidak akan tahan
tapi kalau tidak mengikuti (gila)
tidak akan mendapat bagian
kelaparan pada akhirnya
namun telah menjadi kehendak Allah
sebahagia-bahagianya orang yang lalai
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.


Kompleks makam R. Ng. Ronggo Warsito, di Dukuh Kebon, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Patung Torso R. Ng. Ronggo Warsito di area pemakaman.
Raden Ngabehi Ronggo Warsito, nama kecilnya Bagoes Boerhan. Lahir pada tanggal 14 Maret 1802 di Kasunanan Surakarta Hadiningrat negara Hindia Belanda.

Meninggal pada 24 Desember 1873 umur 71 tahun. Cucu dari Yasadipuro II, pujangga utama keraton Surakarta yang meninggal tahun 1844.

Profesinya sebagai pujangga Keraton Kasunanan Surakarta, mulai aktif tahun 1845-1873. Diangkat resmi sebagai pujangga keraton oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.

Sebelumnya, diangkat sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV), dan diberikan jabatan sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom pada tanggal 28 Oktober 1819.

Karirnya terus meningkat, kemudian menggantikan jabatan ayahandanya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei.

Karya sastranya yang terkenal antara lain; Sapta Dharma, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Cemporet, Kalatidha, Panitisastra, Pandji Jayeng Tilam, Jaka Lodang, Jayengbaya, Paramasastra, Paramayoga, Pawarsakan, Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya, Wirid Ma’lumat Jati, Serat Sabda Jati, Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati dan masih banyak lagi.

Naskah sastranya dalam berbagai bentuk lebih pada bahasa simbolik, dikarenakan R. Ng Ronggo Warsito lebih memihak pada rakyat kecil sebagai kaum yang tertindas akibat kebijakan Belanda.

Hubungannya dengan pihak Belanda juga tidak harmonis, karena dianggap oleh penguasa sebagai sastrawan (jurnalis) yang berbahaya. Tulisan-tulisannya dapat mengobarkan semangat perlawanan rakyat kecil atas penderitaannya kepada pemerintahan kolonial.

Akibatnya, terseret dalam lingkaran kasus keterlibatan Pakubuwono VI yang mendukung gerakan Pangeran Diponegoro. Tokoh yang terlibat diantaranya; Mas Pajangswara dan Pakubuwono IX.

Puncaknya, Ranggawarsita keluar dari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870, disebabkan atas serangkaian ketegangan dengan pihak Belanda.

Kematiannya pun, diduga dibunuh oleh pihak Belanda, namun ada yang misteri dari tanggal kematiannya. Tanggal 24 Desember 1873 adalah tanggal kematian yang tertulis sebelumnya dalam serat Sabdajati yang ditulis sendiri.

Timbul spekulasi kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga terketahui persis kapan eksekusi hari kematiannya.

Spekulasi tersebut masih menjadi perdebatan hingga kini, selain itu R. Ng. Ronggo Warsito juga ahli dalam hal spiritual sebagai peramal, termasuk meramalkan akan datangnya kemerdekaan dari belenggu kolonial.

Bisa juga ramalan akan kematian dirinya benar, bukan eksekusi kematian yang sudah ditentukan jadualnya oleh Belanda, hal tersebut berkat kecerdasan spiritualnya yang mengetahui waktu ajal.

R. Ng. Rangga Warsito dimakamkan di makam khusus milik keraton yang beralamat di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Mangkatnya R. Ng. Ronggo Warsito menandai berakhirnya masa klasik, sekaligus sebagai pujangga terakhir, setelahnya, gaya sastra modern banyak dipengaruhi oleh gaya sastra Eropa. Namun demikian, karya-karyanya tetap menjadi kiblat sastrawan selanjutnya pada periode sastra Jawa modern.

Isi sastranya berisi petuah hidup yang sampai sekarang masih sangat relevan, karena menyangkut kebenaran universal.

Saat ini pun, karyanya menjadi inspirasi bagi generasi pada bidang literasi sastra Jawa. Dengan demikian, R. Ng. Ronggo Warsito pantas dikenangkan sebagai Pujangga Besar Sastra Jawa Klasik.

“Syai’un lillahi lahumul fatihah“; Raden Ngabehi Ronggo Warsito.


(Redaksi)