Wawancara menjadi bagian penting dalam repostase atau peliputan jurnalistik. Jurnalis bisa mencari dan mendapatkan data lewat wawancara narasumber yang kredibel. Wawancara bukan soal bertanya dan menjawab saja. Dalam wawancara ada etika yang harus dipatuhi seorang jurnalis. Dilansir dari sumber, Tempo Institute pada (15/02/2024).

Dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) juga disebutkan beberapa poin tentang etika wawancara, seperti pasal 2 yaitu, “Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik dan pada pasal 9, “Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.”

Wawancara yang baik dilakukan dengan cara yang baik juga. Dengan wawancara yang baik, akan mendatangkan banyak keuntungan bagi jurnalis, seperti bisa menambah informasi dan juga menambah relasi. Untuk itu, persiapan wawancara juga harus diperhatikan, seperti:

Melakukan riset kecil untuk mengetahui latar belakang narasumber. Selain itu menggali keterkaitan narasumber dengan informasi yang hendak dicari, jurnalis juga bisa membangun kedekatan dengan narasumber.
Untuk wawancara yang terencana, jurnalis harus membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan saat wawancara. Ini akan membantu jurnalis mengarahkan narasumber dalam menjawab agar tidak melebar.
Kesiapan fisik dan mental yang baik. Ketika hendak berangkat wawancara, jangan lupa untuk menjaga kesehatan dan penampilan. Dengan kondisi yang baik, akan membangun suasana wawancara menyenangkan dengan narasumber.
Selain tips persiapan wawancara di atas, jurnalis juga harus menerapkan etika wawancara sesuai dengan jenis wawancara yang dilakukan. Misalnya, wawancara langsung, baik tatap muka maupun lewat telepon, wawancara doorstop atau wawancara saat konferensi pers. Jurnalis harus mampu menempatkan diri saat wawancara tanpa harus kehilangan tujuan utamanya. Berikut etika yang harus diperhatikan jurnalis saat wawancara:

Etika Wawancara Langsung

Wawancara langsung bisa dilakukan dengan tatap muka, atau lewat sambungan telepon. Sebelum melakukan wawancara, jurnalis harus mencari narasumber yang relevan dengan isu yang akan ditanyakan. Setelah menemukan narasumber yang pas, segera hubungi dengan cara yang sopan, salah satunya lewat email atau pesan singkat. Jangan lupa untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum menyampaikan tujuan.

Saat menghubungi narasumber, pastikan dengan bahasa yang sopan dan jelas. Setelah itu, lakukan lobbying untuk menentukan waktu dan tempat wawancara. Jika sudah ada kesepakatan, pastikan untuk datang tepat waktu.

Etika wawancara juga dibutuhkan saat sudah melakukan wawancara. Pastikan untuk tidak memotong penjelasan narasumber, tapi jika terpaksa harus memotong, lakukanlah dengan sopan dan tidak menyinggung. Jurnalis juga harus menghormati jawaban dan privasi narasumber. Jangan langsung membantah jawaban narasumber jika tidak setuju. Lakukan dengan sesopan mungkin.

Etika Wawancara Press Conference

Tak jauh berbeda dari wawancara langsung, etika wawancara saat konferensi pers juga harus memperhatikan kesopanan. Sebelum datang ke konferensi pers, pastikan Anda sudah memahami isu yang akan disampaikan. Riset kecil juga diperlukan agar jurnalis mampu mengulik lebih dalam mengenai isu terkait.

Sedangkan saat menyampaikan pertanyaan, jangan lupa untuk menyebutkan nama dan asal media. Setelah itu, sampaikan pertanyaan dengan singkat dan jelas. Saat sesi tanya jawab, jurnalis akan dipersilakan bertanya, namun terkadang dibatasi karena masalah waktu. Jika itu terjadi, jangan ngotot untuk terus bertanya.

Etika Wawancara Doorstop

Wawancara cegat atau doorstop, kerap dilakukan dalam kondisi genting. Walau begitu, jurnalis tidak boleh melupakan etika wawancara yang baik. Jika memang memerlukan wawancara doorstop, jurnalis harus mempersiapkan diri, tak hanya pertanyaan tapi juga fisik, karena harus berdesakan dengan rekan media lain.

Saat hendak bertanya, jurnalis bisa langsung menanyakan pertanyaan kepada narasumber tanpa harus memperkenalkan diri. Asalkan, jurnalis sudah menunjukkan identitasnya dengan ID Card atau atribut pers lainnya. Sampaikan pertanyaan dengan singkat, jelas dan padat.

Selain etika wawancara tersebut, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan saat wawancara, yaitu merekam dan mencatat poin penting saat wawancara. Jika narasumber meminta off the record, jurnalis harus menghormatinya. Jangan lupa juga etika jurnalisme harus dijaga, yakni akurasi, independensi, objekivitas, berimbang, dan mementingkan kepentingan publik. Berikut prinsip inti jurnalisme yang harus dianut dan dikembangkan oleh seorang jurnalis, menurut Committee of Concerned Journalist:

Jurnalisme adalah pada kebenaran.
Loyalitas pada masyarakat.
Disiplin melakukan verifikasi.
Memiliki kebebasan untuk menentukan sumber yang diliput.
Mengemban tugas bebas dari kekuasaan.
Menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik.
Membuat yang penting menjadi menarik dan relevan.
Menjaga berita proporsional dan konprehensif.
Memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya.
Satu lagi yang harus diingat jurnalis ketika melakukan wawancara, yakni tidak menerima suap.

(Redaksi)